Jumat, 08 Maret 2013

PERJALANAN


 “Semua ini sampah.” Teriaknya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Semua teori ini.” Ia mengetukan jarinya di atas buku itu.
“Memangnya kenapa?” Aku masih penasaran.
“Baca saja.” Ia melemparkan buku itu di hadapanku.
Aku membaca sekilas. Tulisan itu berisi teori cara menulis yang mudah. Satu kalimat yang ku baca berbunyi: Jangan bayangkan apa yang akan anda tulis. Tetapi mulailah menulis dan menulis.
“Mungkin ia hanya menganjurkan supaya jangan berhenti berusaha menulis.” Kataku.
“Ya, aku tahu.” Ujarnya sambil mengambil air minum dari dispenser. “Tapi tidak lah semudah yang dipikirkan.”
“Aku tak ingin menyentuh barang ini untuk sementara waktu.”
Ia mengambil buku itu dari tanganku, dengan gerakan berputar ia melangkah ke arah pintu.
“Kau mau kemana?” tanyaku.
“Cari angin.” Jawabnya. Ia membuka pintu dan berlalu.
Aku melanjutkan membaca buku yang ku pinjam dari perpustakaan kampus siang tadi. Seperti biasanya di bulan April yang kering, sinar matahari yang membakar seisi kamar itu mulai membuatku gerah. Aku menutup buku itu, lalu mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
“Halo.” Jawabku di telepon.
“Kau dimana, Tim?” Fero bertanya dari seberang.
“Dikamar.” Jawabku. “Kenapa?”
“Datanglah kemari.” Katanya. “Ada sesuatu yang harus dibicarakan.”
“Memangnya ada apa?” tanyaku.
“Datang sajalah dulu. Sekarang.”
“Aku lagi mandi.” Jawabku. “Tunggu saja, aku segera kesana.”
“Oke. Ditempat biasa ya.”
“Oke.”
Klik. telepon ditutup.
Aku tidak bisa menebak kira-kira apa yang akan ia bicarakan.
“Ada apa?” tanyaku sesaat tiba di tempat itu.
Tempat itu, kantin tempat kami biasa menghabiskan sore hari dan sabtu malam yang tidak menyenangkan. Hari itu, pengunjung kantin tidak terlalu ramai seperti biasanya.
“Duduklah.” Katanya sambil tersenyum lebar. “Minum apa?”
“Kopi aja deh.” Balasku
“Jadi begini.” Ia memulai pembicaraan. “Libur panjang ini, aku akan melakukan perjalanan.”
“Kemana?” aku menyeruput kopi pahit itu.
“Kepulauan di Pasifik...!” Ia berteriak kegirangan
“Wah, bagus sekali.” Kataku.
“Ya, luar biasa.” Ujarnya.
“Tapi.” Kataku “Bukankah sulit sekali menemukan pesawat yang terbang kesana?”
Ia tersenyum. Matanya berbinar.
“Tidak dengan pesawat. ” Katanya dengan ekspresi wajah misterius.
“Lalu?” Aku penasaran.
“Begini, aku sudah berbicara dengan teman-temanku yang ahli dalam pelayaran ...”
“Jadi, menggunakan kapal?” tanyaku memotong pembicaraannya.
“Sabar dulu.” Ia melambaikan tangannya. “Aku sudah berbicara dengan teman-temanku ahli radio juga dan ahli teknik.”
Ia berhenti sejenak.
“Aku akan berlayar menuju Kepulauan di Pasifik menggunakan rakit.” Ujarnya dengan tenang.
“Kau gila?” kataku.
Ia mengangguk
“Benar-benar gila.” Kataku lagi. “Apa kau tidak berpikir yang akan kau lakukan ini sangat berbahaya?”
“Aku mengerti.” Jawabnya. “Tapi kau lihat, jika aku berhasil melakukannya. Aku akan terkenal. Kita akan terkenal.”
“Jadi semua ini tentang terkenal?” aku mulai emosi.
“Bukan hanya itu.” Katanya. “Aku hanya ingin mengubah nasibku yang menyedihkan ini.”
“Tapi bukan begini caranya.”
“Aku tak punya pilihan lain.”
“Lalu, bagaimana dengan pembiayaan ekspedisi yang gila ini?” kataku.
“Kebetulan, beberapa bulan yang lalu aku mengikuti perlombaan tentang perencanaan ekspedisi melintasi samudera pasifik, dan aku memenangkannya. Pemerintah dengan senang hati memberikan biaya yang diperlukan.”
“Bagus sekali.” Ujarku sinis. “Apakah pemerintah juga membekalimu uang dalam kaleng sebagai bekal di tengah perjalanan nanti?”
“Kau kenapa?” tanyanya. “Kau tidak senang dengan semua ini?”
“Bukan begitu.” Kataku. “Aku justru ikut senang atas keberhasilanmu.”
“Tentu saja.” sahutnya.
“Aku hanya... Kau yakin dengan perjalanan ini?” tanyaku.
“Tentu saja.” jawabnya percaya diri.
“Tapi ini perjalanan yang sangat berbahaya. Perjalanan sepanjang 5000 km, bung. Tak ada tempat yang bisa kau singgahi untuk meminta pertolongan. Perjalanan hidup dan mati. Ku harap kau sadar dengan semua itu.”
“Ya, aku sudah memikirkannya secara matang dan aku siap dengan segala resikonya.”
Aku diam.
“Aku mengerti kepedulianmu dan aku sangat menghargainya.” Ujarnya. “Tapi ini kesempatan seumur hidup. Mungkin saja dengan melakukan ekspedisi ini, hidup kita akan berubah selamanya.”
“Jadi kau tidak akan mundur?”
“Tidak.” Sahutnya pasti.
“Baik lah.” Kataku. “Tapi aku tak akan ikut.”
“Aku memang tidak mengajakmu.” Katanya tertawa.
“Lalu, untuk apa kau suruh aku datang disini?” tanyaku heran.
“Pemerintah memberikan asuransi bagi setiap peserta yang ikut ekspedisi ini sebanyak Rp. 100.000.000.”.  Ia terdiam. “Aku ingin menuliskannya atas namamu.” Lanjutnya.
Aku terkejut. “Kenapa tidak kau berikan pada keluargamu?” tanyaku.
“Kau kan tahu.” Sahutnya. “Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi.”
Ia terdiam sesaat. Aku ingat keluarganya meninggal dalam bencana banjir 10 tahun yang lalu.
“Aku ingin memberikan jaminan itu padamu. Karena hanya kau lah satu-satunya sahabat terbaikku.” Katanya sungguh-sungguh. “Siapa tahu aku tidak berhasil.”
Aku melihat ketulusan di matanya. Untuk sejenak, seorang yang bertamperamen keras dan kaku itu menampakan kelembutan hatinya.
“Jangan menolak.” Katanya dengan sikap yang kembali serius. “Kita semua tahu, kau membutuhkannya.”
Aku memang membutuhkan uang itu untuk melanjutkan kuliah dan membiayai penelitianku. Uang itu cukup untuk menghidupi kami selama 4 tahun.
“Aku akan menerimanya.” Ujarku. “Tapi dengan satu syarat.”
“Apa itu?”
“Kau harus kembali dengan selamat.”
“Syarat yang mudah.”
“Kapan kau berangkat melakukan penelitianmu?” Ia bertanya.
“Tiga hari lagi.” Sahutku. “Kenapa?”
“Aku butuh tanda tanganmu sebagai bukti kau bersedia menerima uang asuransi itu.” Ujarnya. “Besok kita menuju ke kantor Ekspedisi dan Pelayaran.”
“Baiklah kalau begitu.” Kataku,
“Jadi, kita sudah sepakat?” ia mengulurkan tangan.
“Yup.” Aku menjabat tangannya. “Tapi jangan lupa kembali kesini.”
“Tidak.” Ia menggoda. “Aku akan menemukan seorang gadis disana, dan menikahinya.”
“Terserah katamu saja.”
Aku tertawa. Ia juga tertawa. Sepertinya hidup akan segera menjadi lebih baik.
Suatu malam, empat bulan kemudian, aku tengah terlelap dalam tidurku. Handphoneku berdering nyaring.
“Halo...” kataku dengan malas.
“Hey...” Suara itu tertawa, khas sekali.
“Aku berhasil...” Ia berteriak lalu tertawa.
“Apa kau tahu ini jam berapa?” tanyaku.
“Maaf.” Katanya. “Aku lupa kalau disitu masih tengah malam.”
“Kapan pulang?” tanyaku,
“Segera.” Jawabnya.
“Pulanglah dengan selamat.” Kataku.
“Ya, sebaiknya kau rapikan ruang asrama kita yang menyedihkan itu. Karena kita kaya...” 

Jumat, 01 Maret 2013

Yang Terlewatkan


Rasanya aku tak sanggup lagi. Semua yang telah dilakukan terasa sia-sia belaka. Apapun yang direncanakan sekarang ini tak kan membuat perubahan itu datang. Hari-hari berlalu dalam andai-andai. Hanya terlewatkan dalam jam-jam yang sepi tanpa suara. Bagai malam yang hening dalam hutan yang gelap.
Hidup mungkin terasa tak adil setelah semua yang telah kau alami tidak satupun memberikan yang baik bagimu. Tapi, terkadang, itulah yang terjadi. Kau tidak bisa melakukan apapun. Kau marah, tapi kau tak berdaya.
            “Aku tak bisa lagi melakukannya.” Kataku
            “Kau menyerah begitu saja?” ia bertanya.
            “Bagaimana tidak.” Jawabku. “Tak ada gunanya lagi diteruskan. Membuang waktu saja.”
            “Mungkin saja, tapi bagaimana dengan waktu, uang, dan tenaga selama ini?” ujarnya.
            “Aku tahu ini berat sekali untuk mu.”
            “Tentu saja”. katanya.
            “Maafkan aku.” Kataku. “Aku tak bermaksud mengecewakanmu.”
            “Tentu saja aku kecewa”
            “Aku tahu, maafkan aku”
            “Aku masih tak habis pikir.” Katanya. “Bukankah selama ini kau melakukannya dengan baik?”
            “Ya, tapi kenyataannya malah sebaliknya.” Jawabku.
            “Bagaimana mungkin?” Ia masih tidak percaya.
            “Kau tahu, aku mulai tertekan dengan keadaanku.” Kataku. “Aku ingin mengatakannya padamu secara terus terang. Tapi aku takut. Aku takut mengatakannya. Aku takut kau akan kecewa dan marah padaku.”
            “Lalu, kenapa kau diam saja seolah kau hidup hanya sendirian saja?”
            “Aku tak ingin menyusahkanmu.”
            “Tapi kau sudah menyusahkanku sekarang.” 
            “Maaf, aku tidak bermaksud demikian.” Ujarku.
            “Kenapa baru sekarang kau berterus terang?” ia bertanya.
            “Keberanian sudah meninggalkanku.”
            “Menurutmu, kau bisa melakukannya lagi?” ia bertanya.
            “Aku tak tahu.” Jawabku dengan keraguan.
            “Sudah kau bertanya dengan mereka?”
            “Ya.” Jawabku singkat.
            “Lalu, apa yang mereka katakan tentang masalah itu?”
            “Mereka akan membantu, tapi menurutku mereka juga tak tahu apa yang harus dilakukan.”
            Ia menghela nafas.
            “Aku merasa tidak berguna.” Kataku. “Maafkan aku.”
            “Jangan berkata begitu.” Ujarnya. “Aku berharap kau dapat menyelesaikannya dengan baik.”
            “Tapi aku sudah mengecewakanmu dan mereka.” Kataku. “Tidakkah kau melihat wajah-wajah yang dipenuhi oleh kekecewaan itu?”
            “Aku bisa melihatnya.” Jawabnya. “Kau juga bisa melihatnya diwajahku.”
            “Aku merasa hidupku sia-sia.” Kataku.
            “Apa yang membuatmu berpikir demikian?” tanyanya.
            “Ya, kenyataan yang kini sedang ku hadapi.” Jawabku.
            “Lantas apa yang akan kau lakukan?”
            “Aku tak yakin.” Jawabku. “Kalau saja mungkin, aku akan melakukan sesuatu yang lain.”
            “Seperti...?”
            “Seperti menciptakan cerita baru. Cerita yang benar-benar baru dalam hidupku.”   
            “Tapi itu akan memerlukan waktu yang cukup lama.” Katanya.       
            “Aku tahu.” Jawabku.
            “Justru itu masalahnya.” Katanya
         “Aku tahu, mungkin aku akan menghabiskan sebagian besar hidupku disitu.” Ujarku. “ Tapi menurutku itu lebih baik dari pada tidak melakukan apapun.”
            “Itu pemikiran yang terlalu berani.” Katanya. “Dan beresiko.”
            “Aku  tak punya pilihan lain.” Jawabku. “Aku juga ingin seperti orang-orang lain.”
            “Tentu saja.” katanya. “Aku ingin melihatmu bahagia.”
            “Aku cukup bahagia dengan hidupku.” Kataku berbohong.
            “Aku tidak melihat adanya kebahagiaan dimatamu.”
            “Mungkin karena aku terlalu lelah.” Ujarku. “Lelah dengan pekerjaan. Lelah dengan permasalahan yang datang silih berganti. Lelah dengan hidup ini. Lelah dengan segalanya.”
            “Maafkan aku.” Katanya. Aku melihat matanya berkaca-kaca. “Semua ini adalah kesalahanku.”   
            “Tidak.” Jawabku. “Ini bukan kesalahanmu.”
            “Ya, tentu saja ini kesalahanku. Seharusnya, aku bisa menjadi seorang yang lebih baik untuk kalian.”
            “Sudahlah.” Kataku menyentuh tangannya. “Tak ada yang harus disesali.”
            “Aku telah membuatmu menderita.” Katanya.
            “Mungkin dalam beberapa cara aku memang menderita. Tapi selebihnya, itu semua kesalahanku.” Ujarku beberapa saat kemudian. “Dan tidak seharusnya aku mengatakan semua ini padamu.”
            “Kenapa tidak?” katanya. “Aku ini ayahmu.”
            “Tapi itu akan menambah satu hal lagi untuk dipikirkan.“ Jawabku.
            “Itu kewajibanku.” Katanya.
            “Aku sudah cukup menyusahkanmu.”
            Aku meraih tangannya.
            “Maafkan aku, ayah.” Kataku.
            “Maafkan ayah juga.”
Mungkin aku tak kan pernah bisa meraih impianku, tapi aku tidak menyesal. 

Rabu, 27 Februari 2013

Quotes

Setiap orang berharap waktu dapat diputar kembali, tetapi hanya sedikit orang yang mau memutar dirinya.
~ Patrick 137 ~

Selasa, 21 Agustus 2012

OBSESI DAN MOTIVASI


Aku adalah penulis. Itu kata-kata yang seringkali ku katakan pada diriku sendiri. Namun, terkadang, ketika aku berpikir, itu bukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan diriku. Karena, rasanya, aku sedang terobsesi.
Ngomong-ngomong tentang obsesi. Obsesi biasanya berpengaruh bahkan berimplikasi negatif terhadap kehidupan. Bukan karena obsesi itu buruk, tapi justru ia mempengaruhi proses yang terjadi didalamnya. Maksudku, proses menuju apa yang menjadi obsesi itu tadi.
Obsesi mengakibatkan pikiran atau minat mengarah sepenuhnya kepada apa yang kita inginkan. Sebagai contoh, menjadi ahli komputer. Keinginan yang berlebihan dan terkadang mengabaikan usaha dan proses yang membutuhkan waktu, sehingga akhirnya, tak ada hasil yang baik. Aku sebut itu obsesi yang berlebihan.
Obsesi sangat berbeda dengan motivasi. Perbedaannya terletak pada tindakan. Orang yang terobsesi cenderung untuk berkhayal menjadi sesuatu. Sedangkan orang yang termotivasi cenderung untuk berusaha dan bekerja keras untuk menjadi sesuatu.
Anehnya, aku tahu itu, tapi mengapa aku cenderung terobsesi dan bukan termotivasi? Yang jelas, berobsesi akan sesuatu itu tidak perlu bersusah payah. Justru disitulah letak kesalahannya.

Rabu, 01 Agustus 2012

Rahasia Awet Muda

"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada empat rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya." "Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan." "Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."

Rabu, 06 Juli 2011

BAHASA SLANG

CHAPTER I
INTRODUCTION

English Variations
Individuals differ in the manner in which they speak their native tongue, although usually not markedly within a small area. The differences among groups of speakers in the same speech community can, however, be considerable. These variations of a language constitute its dialects. All languages are continuously changing, but if there is a common direction of change it has never been convincingly described. Various factors, especially the use of written language, have led to the development of a standard language in most of the major speech communities—a special official dialect of a language that is theoretically maintained unchanged.
This official dialect is the school form of a language, and by a familiar fallacy has been considered the norm from which everyday language deviates. Rather, the standard language is actually a development of some local dialect that has been accorded prestige. The standard English of England is derived from London English and the standard Italian is that of Tuscany. Use of the standard language is often a mark of polite behavior. In the United States employing standard English, which largely entails the usage of approved grammar and pronunciation, marks a person as cultivated. Ordinary speech may be affected by the standard language. Thus, many forms of expression come to be considered ungrammatical and substandard and are regarded as badges of ignorance, such as you was in place of the standard you were.
Slang is the example of non-formal English which is only spoken in a group, community, and not all of English speaker understand. There are many reasons people use slang words and expressions. It can be used just for fun or as a way to be witty or clever. You can use it to be different or startling. Even if you don’t know it, slang enriches the language. Many use it as a way to be friendly, or to show that they belong to a certain group or profession. Some engage in slang usage to be secretive, like those in secret societies, children, students, or prisoners.
Slang is a way of using descriptive or figurative language. It sometimes is irreverent and humorous. Slang expressions describe activities or objects. There is a high number of slang terms associated with the activity or object if it is prevalent. In 1901, G. K. Chesterton wrote “All slang is metaphor, and all metaphor is poetry,” in Defence of Slang.

This paper is to describe:
1.    What is slang?
2.     What is the use of studying Slang?

The writer has interest in slang language and aim to describe it into this paper. It is hoped that the students of English are able to use this paper as reference.

CHAPTER II
SLANG
1.    Definition of Slang
Few linguists have endeavored to clearly define what constitutes slang. Attempting to remedy this, Bethany K. Dumas and Jonathan Lighter argue that an expression should be considered "true slang" if it meets at least two of the following criteria:
·         It lowers, if temporarily, "the dignity of formal or serious speech or writing"; in other words, it is likely to be considered in those contexts a "glaring misuse of register."
·         Its use implies that the user is familiar with whatever is referred to, or with a group of people who are familiar with it and use the term.
·         "It is a taboo term in ordinary discourse with people of a higher social status or greater responsibility."
·         It replaces "a well-known conventional synonym". This is done primarily to avoid the discomfort caused by the conventional item or by further elaboration.
2.    Some Thoughts on Slang
a.    Slang is the poetry of everyday life. 
     -S. I. Hayakawa, Language in Action, 1941 
b.    Slang, n. The grunt of the human hog (Pignoramus intolerabilis) with an audible memory. 
     -Ambrose Bierce, The Devil's Dictionary, 1911 
c.     I shall invent a new game; I shall write bits of slang and poetry on slips and give them to you separate. 
     -George Eliot, Middlemarch, 1871 
d.    Slang is "language which takes off its coat, spits on its hands -- and goes to work." 
     -Carl Sandburg (as quoted in Crystal 182) 
e.    Slang is humanity's first play toy. 
     -John Algeo, University of Georgia professor 
f.     Slang, at its worst, it is stupidly coarse and provocative.  At its best, it makes standard English seem pallid. 
     -J. E. Lighter, chief editor of Random House Historical Dictionary of American Slang

Slang should be distinguished from jargon, which is the technical vocabulary of a particular profession, and which meets only the second of the criteria given above. Jargon, like many examples of slang, may be used to exclude non–group members from the conversation, but in general has the function of allowing its users to talk precisely about the technical issues in a given field.

3.    Extent and origins of slang

Slang can be regional (that is, used only in a particular territory), but slang terms are often particular instead to a certain subculture, such as music or video gaming. Nevertheless, slang expressions can spread outside their original areas to become commonly used, like "cool" and "jive." While some words eventually lose their status as slang (the word "mob", for example, began as a shortening of Latin mobile vulgus), others continue to be considered as such by most speakers. When slang spreads beyond the group or subculture that originally uses it, its original users often replace it with other, less-recognized terms to maintain group identity.
One use of slang is to circumvent social taboos, as mainstream language tends to shy away from evoking certain realities. For this reason, slang vocabularies are particularly rich in certain domains, such as violence, crime, drugs, and sex. Alternatively, slang can grow out of mere familiarity with the things described. Among Californian wine connoisseurs (and other groups), for example, Cabernet Sauvignon is often known as "Cab Sav," Chardonnay as "Chard" and so on; this means that naming the different wines expends less superfluous effort; it also helps to indicate the user's familiarity with wine.
Even within a single language community, slang, and the extent to which it is used, tends to vary widely across social, ethnic, economic, and geographic strata. Slang may fall into disuse over time; sometimes, however, it grows more and more common until it becomes the dominant way of saying something, at which time it usually comes to be regarded as mainstream, acceptable language (e.g. the Spanish word caballo), although in the case of taboo words there may be no expression that is considered mainstream or acceptable. Numerous slang terms pass into informal mainstream speech, and sometimes into formal speech, though this may involve a change in meaning or usage.
Slang very often involves the creation of novel meanings for existing words. It is common for such novel meanings to diverge significantly from the standard meaning. Thus, "cool" and "hot" can both mean "very good," "impressive," or "good-looking".
Slang terms are often known only within a clique or in group. For example, Leet ("Leetspeak" or "1337") was originally popular only among certain Internet subcultures, such as crackers and online video gamers. During the 1990s, and into the early 21st century, however, Leet became increasingly more commonplace on the Internet, and it has spread outside Internet-based communication and into spoken languages. Other types of slang include SMS language used on mobile phones, and "chatspeak," (e.g., "LOL", an acronym meaning "laughing out loud" or "laugh out loud" or ROFL, "rolling on the floor laughing"), which is widely used in instant messaging on the Internet.
            According to the British lexicographer, Eric Partridge (1894-1979), people use slang for any of at least 15 reasons: 
1.  In sheer high spirits, by the young in heart as well as by the young in years; 'just for the fun of the thing'; in playfulness or waggishness. 
2. As an exercise either in wit and ingenuity or in humour.  (The motive behind this is usually self-display or snobbishness, emulation or responsiveness, delight in virtuosity). 
3. To be 'different', to be novel. 
4.  To be picturesque (either positively or - as in the wish to avoid insipidity - negatively). 
5. To be unmistakeably arresting, even startling. 
6. To escape from clichés, or to be brief and concise.  (Actuated by impatience with existing terms.) 
7.  To enrich the language.  (This deliberateness is rare save among the well-educated, Cockneys forming the most notable exception; it is literary rather than spontaneous.) 
8.  To lend an air of solidity, concreteness, to the abstract; of earthiness to the idealistic; of immediacy and appositeness to the remote.  (In the cultured the effort is usually premeditated, while in the uncultured it is almost always unconscious when it is not rather subconscious.) 
9a. To lesson the sting of, or on the other hand to give additional point to, a refusal, a rejection, a recantation; 
9b. To reduce, perhaps also to disperse, the solemnity, the pomposity, the excessive seriousness of a conversation (or of a piece of writing); 
9c. To soften the tragedy, to lighten or to 'prettify' the inevitability of death or madness, or to mask the ugliness or the pity of profound turpitude (e.g. treachery, ingratitude); and/or thus to enable the speaker or his auditor or both to endure, to 'carry on'. 
10.  To speak or write down to an inferior, or to amuse a superior public; or merely to be on a colloquial level with either one's audience or one's subject matter. 
11.  For ease of social intercourse.  (Not to be confused or merged with the preceding.) 
12.  To induce either friendliness or intimacy of a deep or a durable kind.  (Same remark.) 
13.  To show that one belongs to a certain school, trade, or profession, artistic or intellectual set, or social class; in brief, to be 'in the swim' or to establish contact. 
14.  Hence, to show or prove that someone is not 'in the swim'. 
15.  To be secret - not understood by those around one.  (Children, students, lovers, members of political secret societies, and criminals in or out of prison, innocent persons in prison, are the chief exponents.) 
4.    Examples of Slang
Here are some examples of American slang language:
Slang:  Originally meant abuse 
Have a Cow:  This is normally used as part of a sentence.  For example: "Don't have a cow." Or "My mom’s going to have a cow."  There are some variations, for instance, "have a bird." 
Cool:  This popular expression is used to describe something that is very good. 
  Ex:  “That band is cool!” 
Cat’s Pajamas:  Used in the 20’s, this expression is very similar to "cool." 
            Other slang term that have similar meanings are: "radical," "groovy," 
             "da-bomb," and "neat-o." 
Chill:  This can mean to calm down, for example, “Chill out, Dude.” It also can have an "-in" ending added to mean to relax, as in “We’re just chillin at my house.” 
Dude:  This is can be used to refer to any person whether they are known by the speaker or not.  Example: “That dude is stealing my car.”  Or “Dude, I’m glad you finally called.” 
Peace:  Used as a greeting during the late 60’s and early 70’s. 
Stinks:  When used as a slang term, this means "is bad."  For example:  “This exam stinks.” 
Trollin:  Used to describe a car or cars traveling slower than the flow of traffic.  Example:  "This car is really trollin." 
Mr. Charley: a white man 
The Man:  the law 
Uncle Tom:  a meek black person 
23-skiddoo:  used in the 1920s 
Booze:  alcohol 
Buzz off:  go away 
John, head, can, loo:  toilet 
Schnozz:  nose 
Grub, slop, garbage, gas:  food 
Tart:  upstart young woman or prostitute 
Makin' whoopee (Walter Winchell - 1929):  making love. 


CHAPTER II
CONCLUSION

1.    What is Slang?
Slang, which we have observed, is a dialect that exists and is going to undergo significant development as the time goes by. Now, we are able to answer, what is slang and what is the use of studying slang?
Slang is informal, nonstandard words or phrases (lexical innovations) which tend to originate in subcultures within a society.  Slang is informal because it is not bound to grammar rules, and nonstandard because it often mean different things with different words or phrases. Slang often suggests that the person utilizing the words or phrases is familiar with the hearer's group or subgroup--it can be considered a distinguishing factor of in-group identity.  Microsoft Encarta states: "slang expressions often embody attitudes and values of group members."

2.    What is the use of studying Slang?
Here are several points of the advantages of studying Slang for students of English as foreign language:
1.    To widen knowledge on English language.
2.    To enrich vocabulary.
3.    To increase speaking fluency, because when we remember many words, it is easier to use them in everyday speaking.
4.    The most important thing is to be able to use either Slang or formal English in the appropriate time and place without mixing them.








References:
Dumas, Bethany K.; Lighter, Jonathan (1978). "Is Slang a Word for Linguists?" American Speech 53 (5): 14–15 in Wikipedia
Holmes, Janet. 1990. “Introduction To Linguistics”.
language: Variations in Language — Infoplease.com http://www.infoplease.com/ce6/society/A0859182.html#ixzz1R7lI3u5p
Eric Patridge. Slang:  Today and Yesterday, 1933, Ch. 2.
http://www.yourdictionary.com/grammar/slang/history-of-american-slang-words.html


Senin, 04 April 2011

Penerjemah Yang Baik

Apa sih yang dimaksud dengan penerjemahan yang baik itu?

Eltienne Dollet, yang dikutip pendapatnya oleh Eugene Nida, seorang pakar penerjemah (1964) mengatakan bahwa
• Penerjemah haruslah sepenuhnya memahami isi dan maksud pengarang yang tertuang dalam bahasa sumber.
• Penerjemah haruslah mempunyai pengetahuan bahasa yang sempurna, baik bahasa sumber, maupun bahasa terjemahannya.
• Penerjemah haruslah menghindari kecenderungan menerjemahkan kata per kata karena, apabila teknik demikian ia lakukan, maka ia akan merusak makna kata yang asli, lagi pula merusak keindahan ekspresi.
• Penerjemah haruslah mampu mempergunakan ungkapan-ungkapan yang biasa dipergunakan sehari-hari.
• Penerjemah haruslah berkemampuan menyajikan nada (tune) dan warna asli bahasa sumber dalam karya terjemahannya.

Namun, selain hal tersebut di atas, perlu pula diperhatikan bahwa setiap bahasa mempunyai sistem, peraturan kebahasaan, dan pengecualian terhadap peraturan kebahasaan sendiri-sendiri.

Kiranya, keempat perbedaan itulah yang biasanya menyebabkan kesukaran-kesukaran dalam mempelajari, memahami, apalagi untuk menguasai bahasa lain. Hal itu pun akan lebih jelas terlihat ketika penerjemah mencari padanan suatu terjemahan. Mungkin saja, ada unsur dalam bahasa sumber yang tidak ada atau berbeda di bahasa sasaran (untranslatebility), misalnya saja dari linguistik ataupun budaya. Itulah masalahnya.

Nah, masih tertarik untuk menjadi penerjemah yang baik?