Tampilkan postingan dengan label Spamxx. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Spamxx. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Agustus 2013

KISAH ANEH


Jonathan terbangun di pagi hari dan mendapati semua orang di seluruh dunia telah menghilang.

Hari itu, jam menunjukan pukul 7.15, alarm berdering memenuhi seisi kamar. Dengan malas Jonathan bangkit dan menuju kamar mandi. Hari-hari yang membosankan segera dimulai kembali, pikirnya, dan pekerjaan yang menumpuk, ah, ia tak berani membayangkannya. Jonathan mengenakan pakaian yang sama setiap hari Senin. Kali ini, pakaian yang ia kenakan lebih besar dan celananya sedikit kedodoran. Ia menyiapkan sarapan telur dadar dan nasi putih serta susu, beberapa saat kemudian ia siap berangkat bekerja.

Tapi ada beberapa hal yang terasa aneh hari itu. Udara terasa lebih segar dari pada biasanya dan hiruk pikuk kota yang begitu padat tak terdengar. Jonathan mengecek handphone-nya, tak ada pesan masuk ataupun panggilan tak terjawab. Hanya beberapa pengingat yang menunjukan betapa akan sibuk ia hari ini. Ia memasuki lift dan memencet tombol lantai dasar. Biasanya, lift akan berhenti di setiap lantai dan orang-orang berbondong-bondong memenuhi lift itu hingga penuh sesak, namun kali ini, semuanya tampak tidak biasa. Mungkin mereka tengah liburan, pikirnya.

Ketika tiba di lobi apartemen itu, Jonathan merasa heran, karena tak seorangpun ia jumpai di sana. Semuanya tampak bersih dan rapi, bahkan televisi besar di sebelah booth resepsionis itu menyala tengah menayangkan film yang paling jelek yang pernah ia saksikan. Jonathan tertegun sesaat, ia menoleh sekeliling. Kosong melompong. Ia memanggil-manggil, tak ada jawaban. Ia pergi ke ruang kamera pengawas tempat seorang temannya bekerja, tak ada seorangpun di sana. Kemana semua orang, pikirnya. Ia berlari ke arah pintu keluar, dan betapa ia terkejut menyaksikan pemandangan yang langka ini: kendaraan mobil dan motor terparkir rapi dan sebagian lagi berada di jalanan. Akan tetapi, mobil-mobil itu sepertinya ditinggalkan begitu saja oleh pengemudinya. Toko-toko dan tempat minum di tepi jalan dengan meja-meja yang di letakkan di trotoar, buka seperti biasa, namun tak ada satupun orang di sana. Pendeknya, semuanya tampak normal, hanya saja, tak seorangpun manusia yang ia jumpai.
Aneh sekali, pikir Jonathan. Ia mulai mereka-reka pikirannya, apa gerangan yang terjadi. Apakah ini hanya gurauan? Atau semua orang tengah bermain petak umpet, tapi untuk apa? Apakah orang-orang di seluruh kota sengaja bersepakat memberikan kejutan padanya, tepat pada hari ia berulang tahun hari ini? Semua itu tak masuk akal, pikirnya. Benaknya mulai gelisah dan otaknya mengatakan ada hal yang tak beres terjadi hari ini.

Jonathan menyusuri jalan yang setiap pagi ia tempuh menuju kantor. Ia bekerja sebagai akuntan di perusahaan keuangan yang terletak di komplek bisnis di pusat kota. Setiap hari ia berangkat pagi-pagi dan kembali ketika senja mulai menyelimuti permukaan bumi. Sudah dua tahun ini ia tak sempat mengambil cuti. Ia tak ingin kehilangan kesempatan menabung dan berkunjung ke luar negeri sebagaimana yang selama ini ia impikan. Jonathan bergegas menuju kantornya, sambil berharap masih ada seseorang yang ia jumpai di sana. Ia tak perlu berlama-lama di jalan karena tak seorangpun yang harus ia sapa dengan mengucapkan selamat pagi. Jonathan tiba di sebuah bangunan yang tinggi menjulang. Layar besar televisi yang terpampang di depan kantornya, menyala menayangkan iklan asuransi yang baru-baru ini tengah naik daun. 

Tidak, pekiknya ketika ia tiba di meja resepsionis. Kertas-kertas tersusun rapi. Ia menaiki tangga bergegas menuju ruangannya. Sama saja. Semuanya kosong melompong. Meja-meja yang berjejer rapi di sepanjang ruangan yang biasanya dipenuhi seruan orang-orang yang sibuk bekerja, dengan komputer hitam di atasnya, tampak sunyi sepi. Apa yang sebenarnya terjadi, pikirnya. Jonathan memencet handphone-nya, menghubungi seseorang, tak ada jawaban. Ia menunggu. Tetap tak ada jawaban. Ia menghubungi sahabatnya, Amos. Tak ada jawaban. Pesan-pesan yang ia kirimkan juga tak ada balasan. Ia juga menghubungi orang tuanya yang tinggal di luar kota, sama saja. Tak ada jawaban. Jonathan mulai panik, ia berlari keluar. Jalan raya itu dipenuhi mobil-mobil. Namun mereka tak bergerak. Jonathan berteriak, berharap ada orang yang mendengar dan menjawab teriakannya. Ia terus berteriak hingga perutnya sakit dan suaranya tak kuat lagi. 

Jonathan masuk ke dalam sebuah mobil entah milik siapa, lalu berkendara menuju sudut lain kota. Ia berhenti di depan sebuah apartemen yang dicat warna hijau. Ia segera berlari menuju sebuah kamar. Namun ia juga tak mendapati seorangpun di sana. Hanya beberapa foto yang menunjukan seorang gadis cantik bermata indah dengan rambut ikal dan bibir tipis yang merekah. Flora, tunangannya, ikut-ikutan menghilang. Jonathan menghabiskan hari itu berkeliling kota, mencari tahu apa yang sekiranya terjadi. Seperti yang sudah-sudah, ia tak menjumpai seorangpun. Semua hilang, menguap, atau ditelan bumi, atau entah bagaimana caranya sehingga semua orang tiba-tiba lenyap. 

Namun, dengan begitu, Jonathan seolah memasuki babak baru dalam hidupnya. Dua hari sejak peristiwa aneh ini, untuk pertama kalinya, Jonathan merasa dirinya merdeka. Terbebas dari segala rutinitas pekerjaan yang memuakan, ia tak perlu lagi bangun pagi dan pergi bekerja atau berpikir untuk membayar hutangnya yang tidak sedikit. Saat ini, ia berusia 29 tahun dan telah bekerja sejak ia berusia 19 tahun. Tak sekalipun ia merasa sebebas ini. Ia pergi ke restoran tempat ia biasanya melewatkan malam minggu, dan makan di situ dengan makanan apa saja yang ia inginkan. Kali ini ia tak perlu membayar. Ia juga pergi ke toko kaset, memilih sendiri lagu-lagu kesukaannya dan membawanya pulang. Atau ketika ia membutuhkan pakaian, ia hanya tinggal pergi ke toko dan mengambil pakaian yang mana saja ia suka, bahkan pakaian yang tak kan pernah mampu ia beli seumur hidupnya. Atau mobil dan sepeda motor, ia tinggal mengambil di jalan. Sebagaimana juga dengan peralatan lainnya, ia tinggal mengambil di toko atau membuangnya ketika ia sudah tak menyukainya dan mengambil lagi sesuka hatinya. Pendeknya, Jonathan bagai hidup di dunia mimpi, tak perlu bersusah-susah untuk memperoleh kesenangan, dan ia benar-benar mahir dalam hal bersenang-senang.

Namun, lepas dari semua itu, Jonathan mulai merasa gelisah dan kesepian. Beberapa minggu kemudian, kesenangan dan kebebasan mutlak yang ia peroleh tak lagi mengesankan. Ia mulai terbangun dengan perasaan malas dan pikiran yang penuh tanda tanya, kemana orang-orang? Dan apalah arti semua ini jika hanya dinikmati sendirian. Sudah berhari-hari lamanya ia tak berbicara, atau tertawa-tawa. Ia merindukan tunangannya, Flora, dan Amos sahabatnya. Ia juga telah berkunjung ke rumah orang tuanya yang terletak 90 km dari kota, sesuatu yang telah lama tidak ia lakukan. Jonathan menemukan pemandangan yang tak berbeda. Ia sangat merindukan mereka. Dan semua kenikmatan ini tak kan berarti apa-apa lagi. Dunia tampak sunyi sepi. Dalam kemegahannya ia tinggal berdiri dalam keheningan. Dan kali ini, ia benar-benar sendirian.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Sebuah Cerpen

Seorang pria bertubuh jangkung dan berkulit pucat duduk di hadapan sebuah meja tulis. Kepalanya menunduk ditopang lengannya yang panjang dan kurus. Punggungnya melengkung seperti udang. Buku tebal terbuka dihadapannya. Entah sudah beberapa lama ia berada di tempat itu; satu jam, dua jam, atau bahkan seharian. Ia tak bergeming hingga bayangannya mematung di dinding yang dipenuhi potongan koran, majalah dan gambar-gambar aneh lainnya. Beberapa saat berlalu dalam keheningan, pria itu meluruskan tubuhnya sambil mengarahkan pandangannya ke luar jendela, mengangkat kedua lengannya ke udara. Ia menguap dan mengosok-gosok wajahnya. Ia tertegun mendengarkan desau angin; suara kendaraan-kendaraan yang melintas di jalan raya, hiruk-pikuk tetangga dengan kesibukan mereka masing-masing, dan kicauan burung-burung ditengarai gemuruh pesawat yang terbang rendah. Sinar keemasan memantulkan biru langit cemerlang dan awan putih bagai percikan cat bertebaran di sana sini.

Ketukan keras menggema di ruangan itu. Wajah persegi kemerahan berdiri di depan pintu yang terbuka, seorang pria yang menenteng gitar bergegas melangkah masuk. Sinar matanya terang dan riang diiringi sebuah senyuman mengembang dibibirnya.

“Hey, Tom, kau kemana, kenapa tak datang?” kata pria itu seraya meletakkan duduknya di atas kursi. “Semua orang mencari-carimu.”

“Aku tidak kemana-mana kok.” Kata Tom. “Aku lagi tidak mood mau keluar.”

“Sayang sekali. Kami baru saja menikmati pesta kecil di taman. Mereka menantimu dengan puisi-puisi yang mendayu-dayu itu. Tapi kau tak menunjukan batang hidungmu.”

“Aku lagi tak ingin kemana-mana. Lagi pula, apa yang mereka harapkan? Mereka hanya tahu bersenang-senang, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna.”

“Kau baik-baik saja?”

“Apa aku terlihat seperti sedang tidak baik?” ujar Tom.

“Mana ku tahu. Selama beberapa hari ini kulihat kau sibuk dengan buku-bukumu, lebih sering ku lihat kau termenung. Sedang bermasalah dengan pacarmu?”

“Ah, pacar? Apa kau pernah melihatku bersama seorang gadis?”

Ia tersenyum sembari menggeleng-geleng.

“Luar biasa.” Katanya.

“Apa?”

“Ah, tidak. Cukup aneh. Kurasa kau orang paling aneh yang pernah ku kenal.”

“Terkadang aku juga ingin seperti orang-orang lain. Menikmati kehidupan yang sebenarnya. Menikmati senja di taman, atau menerima undangan ulang tahun dan pernikahan. Sehingga ketika kau hendak pergi tidur pada malam hari, pikiranmu merasa tenang dan puas bahwa kau pernah mengalami masa-masa indah bersama seseorang. Aku sudah mencobanya berkali-kal, tetap saja aku tak bisa. Malahan aku terlihat seperti orang dungu yang berdiri bagai patung bisu di sudut gelap. Memalukan sekali. Tapi sekarang, tak ada yang lebih menyenangkan dari pada menyendiri.”

“Setidaknya kau sudah berusaha. Cobalah lagi lain waktu. Dan ku rasa kau perlu melakukan hal yang berbeda. ”

“Frans, apa yang kau cari?” kata Tom.

Pria itu memalingkan wajahnya pada Tom dengan kerutan di keningnya.

“Maksudmu?”

“Ya, maksudku, apa yang kau cari?”

“Disini?”

“Bukan. Dalam hidupmu.”

“Aneh sekali. Tentu saja aku kuliah. Setelah itu bekerja dan bila cukup beruntung, aku akan menikahi gadis tercantik dan terkaya di jagat raya ini dan memiliki perusahaan konstruksi sendiri.”

“Itu saja?”

“Untuk saat ini, ya. Kenapa memangnya? Bukankah itu rencana terhebat yang pernah muncul dalam benak seorang lelaki?”

“Ya, terkadang aku berpikir apapun yang kau lakukan dalam kehidupan, semua itu hanyalah hal yang sia-sia.” Ujar Tom.

“Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”

“Ya, karena apapun yang kau lakukan, bagaimanapun keadaanmu pada akhirnya akan mengalami hal yang sama. Kematian. Seluruh hidupmu dan perbuatanmu hanya akan menjadi debu yang menghilang diterpa angin dan tempatmu di dunia ini digantikan oleh orang-orang lain yang bahkan tak mengenalmu sama sekali.. Lalu kau menjadi sebuah kisah tak penting meski aku belum tahu kenapa kita harus ada disini. Setiap manusia seharusnya memiliki satu impian besar dalam hidupnya.”

“Mungkin kau benar. Tapi beginilah kehidupan. Kau hidup, lahir, melakukan segala sesuatu yang kau bahkan tak tahu untuk apa. Tapi tentu semua yang terjadi memiliki tujuan, hanya saja saat ini kita belum memahaminya.”

“Ya, mungkin saja. Tapi, coba pikirkan.” Kataku meyakinkan. “Orang-orang yang terkenal; pemikir hebat dengan filsafat yang rumit, penulis, pemusik, bahkan pemimpin dunia yang berjaya pada masanya, kau lihat sekarang, apa yang tersisa dari mereka?”

“Nama, mungkin.” sahut Frans. “Kurasa itu hal yang sepadan, bukankah mereka dikenang hingga saat ini?”

“Tentu saja, tapi menurutku ada hal yang lebih dari pada itu. Aneh juga mengenang seseorang karena kebodohan yang pernah ia lakukan, atau kekejaman dan lain sebagainya. Lagi pula uang, kekayaan, nama yang masyhur tak menjamin kebahagiaan. Uang bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan, ia hanya alat yang digunakan orang-orang untuk menciptakan hal-hal yang menyenangkan. Dan kau bilang uang dapat membuat orang berbahagia?”

“Aku tak bilang begitu, tapi aku pernah membaca di internet mengenai orang-orang yang mampu bertahan hidup tanpa uang sama sekali. Aku tak dapat memahami pemikiran mereka, bagaimana mungkin orang bisa hidup tanpa uang? Apalagi di zaman seperti saat ini. Aneh sekali. Tidak. Tanpa uang segala sesuatunya menjadi sangat rumit.” Kata Frans.

“Bagus sekali, kau mulai menunjukan kecerdasanmu.”

Frans mengangguk-angguk.

“Kau, apa yang kau cari?” katanya lagi.

“Aku sedang mengusahakannya. Aku ingin menjadi orang yang mengerti kehidupan terlepas dari kenikmatan dunia dan tetek bengeknya. Kau tahu, setiap orang perlu menjadi bodoh sebelum ia pandai. Dan beberapa kebodohan lain lagi agar ia mencapai titik kedewasaan.”

“Lantas bagaimana dengan impian terbesar itu?”

“Aku belum tahu. Aku tengah mencoba memahami semua yang terjadi.”

Frans menghela nafas seraya menatap sekeliling kamar yang dipenuhi buku dan kertas berserakan di rak buku, meja dan lantai.

“Tom, kau perlu sedikit udara segar.”

“Apa kau bilang?”

“Kubilang, kau benar-benar harus melihat dunia luar. Sudah hampir dua minggu lamanya kau berada dirumah terus. Keluarlah sekali-sekali. Lihatlah dunia dan kehidupannya secara langsung. Kau bisa pergi menonton bioskop, atau bersantai dikedai-kedai ditepian jalan itu. Siapa tahu, diluar sana, kau akan bertemu gadis-gadis cantik dan hal-hal menarik lainnya. Bersenang-senanglah.”

“Tak ada hal yang menarik bagiku diluar sana.”

“Aku tahu, tapi tak tersentuh matahari dalam waktu yang lalma dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental.”

“ Jadi kau bilang aku gila?”

“Ya, mungkin saja dalam beberapa minggu ke depan.”

“Baiklah. Ku rasa kau benar juga, aku mulai bosan berada di rumah terus-terusan.” Kata Tom.

“Ya, setidaknya kau bisa menyegarkan pikiran dan meluaskan pandanganmu.”

“Frans, kau tahu dimana tempat membeli peralatan berkemah?”

“Aku tak tahu, kau tanya saja pada orang-orang dijalan.”

Tom meraih jaket yang tergantung dibalik pintu dan menutupi kepalanya dengan topi. Lantas berjalan menuju pintu.

“Kau mau kemana?”

“Seperti katamu, aku mau mencari udara segar.”

“Bagus kalau begitu. Nanti aku menyusul. Ada tempat minum baru di sudut jalan sana.”

“Ah, aku sedang diet gula.”

“Lantas, kemana?”

“Perpustakaan.” Katanya seraya berlalu.

Jumat, 26 Juli 2013

PERCAKAPAN ANGIN


Aku pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa inti semangat manusia berasal dari setiap pengalaman baru, entah melakukan perjalanan ke suatu tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya atau suasana baru meski tetap berada di tempat yang sama. Oleh karena itu, aku ingin sekali melakukan perjalanan. Seperti seorang backpacker dengan tas ransel besar, yang menjadi ciri khas mereka,  di punggungnya, menemukan tempat-tempat baru dan kehidupan baru yang biasanya berbeda. Dan yang luar biasa, para pelancong ini kemudian menuliskan pengalaman mereka ke dalam buku sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang dan menyebarkan semangat yang sama.
Aku menyebutnya Rencana Besar. Aku bersiap dengan segudang rencana dan berbekal uang seadanya untuk melakukan petualanganku sendiri. Aku banyak membaca bermacam petualangan yang dilakukan orang-orang dari internet dan membakar diri dengan api semangat yang menggelora. Orant-orang itu mengatakan bahwa petualangan yang mereka lakukan merupakan bagian dari panggilan hidup dalam upaya menyelami arti kehidupan. Namun, hingga hari ini, aku belum juga memahami pola pikir mereka dan bagaimana mereka memulai semua itu. Walau dalam internet, mereka memaparkannya dengan gamblang, ku pikir, aku tak cukup cerdas menyelaminya.
Hingga suatu hari, saat yang kunanti-nantikan tiba seiring dengan libur panjang akhir semester datang. Aku bersiap dengan keraguan melanda hatiku. Namun, rencana terkadang tak bersesuaian dengan kenyataan. Aku mendapati diriku tengah terdiam duduk dalam kamarku yang sempit, menghadap meja sambil memikirkan apa yang harus ku lakukan ke depannya. Mungkin aku tak punya cukup keberanian untuk memulainya atau banyak hal lain yang tak ingin kukatakan padamu. Pada dasarnya, setiap manusia melakukan perjalanan dalam kehidupannya yang singkat ini. Entah dengan merantau ke negeri asing atau bepergian melalui pengalaman spiritual yang tak ku mengerti, sambil tetap menjalani rutinitas yang semakin lama semakin menjemukan.
Sudah beberapa tahun ini aku merasakan ada yang salah dengan diriku. Mungkin kau lebih mengerti keadaan yang ku alami, maksudku, ketika kau tidak bekerja sehingga tak satu rupiah pun mengalir dalam dompetmu yang bahkan sudah tak berbentuk sejak hari itu. Melewati hari-hari dengan menulis sesuatu yang tak ada artinya. Namun, semua itu memberiku semangat untuk melakukan sesuatu. Sebagaimana yang kau ketahui juga, masalah itu bukanlah satu-satunya masalah yang ada. Setiap hari kau mencoba mencernanya dengan pikiranmu, tiba-tiba, kau tersesat dalam kebingungan dan mendapati mereka bagai jutaan bintang yang bertaburan di langit malam.
Kau tahu, ketika sinar matahari di ufuk timur mulai merekah, aku hanya bisa memandanginya. Dalam hati terbersit sebuah pemikiran, kalau saja aku bisa menyaksikan pertunjukan terhebat dari alam semesta ketika memulai hari yang baru di suatu tempat yang berbeda. Aku tak tahu dimana perbedaannya dan bagaimana rasanya. Mungkin kau telah mengalaminya jutaan kali dan hal ini bukan lagi sebuah kejutan. Segera sesuatu yang hebat dan luar biasa menjadi hal biasa dan sederhana. Ku pikir, setiap orang memiliki keharusan dalam menyelami hal-hal sederhana di dunia ini dengan tetap mensyukuri apa yang tersedia. Kau tahu, manusia bukanlah spesies yang mudah menerima apa yang terlihat. Selalu menginginkan yang lebih dari pada itu. Justru, disitulah letak kehebatan manusia.
Pernah suatu ketika aku tengah duduk menikmati sinar matahari sore di tepi hamparan padi yang memantulkan sinar keemasan. Angin sepoi-sepoi membelai wajah dan menerbangkan angan mengatasi gunung yang di kejauhan bagai tumpukan benda berwarna hijau tak beraturan, maaf, jika penggambaran yang ku katakan ini tidak memenuhi angan-anganmu yang tak terbatas. Setidaknya, pengalaman itu memberikan angin baru bagi jiwaku yang mulai layu. Aku melemparkan sebuah pemikiran keluar dari hatiku, tentang bagaimana dunia ini berputar dan berjalan sesuai dengan arahan tangan-tangan yang menulisnya. Tapi, adalah suatu kebodohan jika kau mencoba memahami seluruh pertunjukan ini.
Tiba-tiba, desir angin membisikan sesuatu, “Apa yang kau lakukan disini, anak muda?” Aku terhenyak, ku pikir suara itu milik seseorang yang melintas di jalan kecil di belakangku. Aku menoleh tapi tak menjumpai seorangpun. Lalu dengan sedikit keberanian yang masih tersisa aku menjawab, “Aku mencoba memahami keindahan yang ditujukan alam padaku. Oh,betapa besar, betapa luar biasanya semua ini. Tapi, siapakah engkau?” Ia berkata lagi, “Aku adalah angin, yang bepergian melintas ruang dan waktu. Aku baru saja melalui sebuah padang hijau dengan beberapa anak manusia asyik bermain-main dan mengucapkan syukur karena memberikan mereka perasaan tenang, tapi mereka tak mengatakan sesuatupun padaku. Ketika ku saksikan seorang manusia menatapku, aku mendekatimu, karena ku lihat wajah yang murung dan hati yang bersedih.  Aku ingin sekali berbicara pada manusia, karena mereka menyimpan banyak rahasia. Lagipula, sudah lama sekali aku tidak berbicara pada manusia.” “Kalau begitu, apa yang bisa ku katakan padamu?” kataku. “Kau tahu, terkadang kesedihan timbul tanpa sebab yang pasti. Dan tiba-tiba saja kau merasakan sesuatu yang berbeda bergejolak di dalamnya.” “Aku tidak mengetahui segalanya, namun, aku dapat membaca hati dan pikiran setiap manusia. Hanya saja, sedikit dari mereka yang mampu menanggapi apa yang hendak ku katakan.” “Kalau begitu, apakah kau juga mengetahui perjalanan hidupku dan impian-impian besar yang tersimpan rapi dalam pikiranku saat ini?” “Tentu saja, aku bahkan menyaksikan kelahiranmu. Aku selalu bahagia ketika seorang manusia terlahir di dunia. Oleh karena itu aku membuka jalan bagi cahaya mentari dengan menyibakkan awan, sahabat karibku, sehingga manusia itu dapat melihat cahaya yang memberi kehidupan padanya.” “Indah sekali.” Kataku. “Ya, benar sekali, sebagai mana juga saat kau di lahirkan.” “Seperti yang kau katakan tadi, dengan mengetahui banyak hal, rahasia setiap orang contohnya, apakah hal itu memberikah kebahagiaan bagimu?” “Tidak.” Katanya. “Justru aku merasakan betapa manusia kala ini berbeda dengan manusia yang pernah ku kenal dulu. Mengerikan sekali.” “Kenapa?” tanyaku. “Kau tak ingin mengetahuinya.” Jawabnya.
Tak terasa, malam menjelang. Sang angin pergi entah kemana. Aku kembali ke rumah dengan perasaan senang bercampur aneh. Aku tak menyangka, manusia dapat berbicara dengan angin. Malam itu, seperti biasanya, aku duduk kembali di dalam kamarku yang sempit dengan hati berdebar-debar. Aku tahu, esok akan lebih menarik dari hari ini. Malam semakin larut, setelah makan malam, aku pergi tidur.
Cahaya pertama matahari pagi menerobos masuk ke kamarku. Hangat. Aku tak sabar ingin bertemu lagi dengan teman baruku. Rutinitas pagi seperti biasanya ku lakukan dengan semangat. Banyak hal yang kukerjakan sehingga nanti aku punya bermacam kisah yang bisa kuceritakan. Tapi, sebelum tengah hari, langit menjadi gelap dengan awan kelabu bergulung-gulung di angkasa. Membuat pemandangan menjadi menakutkan, dan titik-titik air menerjang permukaan bumi dan segala yang ada di atasnya. Aku hanya bisa memandang melalui jendela yang basah sambil berharap semoga hujan tak bertahan lama agar aku tak perlu melewatkan hari ini dalam kekecewaan. Syukurlah, beberapa jam setelahnya, sinar matahari kembali muncul berkilauan.
Sore itu, pada jam yang sama seperti kemarin, aku datang lagi ke persawahan. Kali ini sebuah buku novel di tanganku. Aku tak tahu hendak ku apakan buku itu, hanya saja, perasaanku mengatakan harus membawanya. Beberapa menit kemudian, angin sepoi berhembus. Menelisik dedaunan padi yang menguning, dan menghampiri wajahku. Aku menunggu.
“Apa kabarmu hari ini, kawan?” Aku tahu suara itu. “Aku merasa berbeda.” Kataku. “Senang sekali mendengarnya.” “Kalau kau punya sedikit waktu, mau kah kau menemaniku sekedar berbincang sebentar?” “Tentu saja.” Aku menceritakan padanya kegiatanku hari ini dan apa saja yang telah kulalui. Ku katakan juga padanya tentang hujan lebat siang tadi. “Oh,” katanya, “Ia tak kan menyakitimu. Sang awan sedang melaksanakan tugasnya.” “Jadi, setiap kalian memiliki tugas masing-masing? Apakah tidak membosankan melakukan hal yang itu-itu saja, seperti menurunkan butiran-butiran air atau menghembusi berbagai belahan dunia dengan angin mu?”
“Tentu tidak. Itu sudah menjadi tugas kami. Dengan senang hati kami melakukannya karena kami mencintai manusia.” “Tentu saja.” Kataku. “Kalian tak memiliki masalah seperti yang kami hadapi.” “Perlu banyak belajar agar kau mengerti.” Sahutnya. “Kami memiliki masalah, namun apakah dengan masalah itu kau akan berhenti melakukan apa yang harus kau lakukan, tidak bukan?” “Ya, kau benar sekali. Kau katakan tadi kalian mencintai manusia, lalu bagaimana dengan bencana-bencana yang terjadi waktu-waktu ini, mereka mengatakan alam sedang menunjukan kemarahannya. Bagaimana kami tahu kalau kalian memiliki cinta jika tanpa segan-segan membunuh manusia?”
Angin berhembus pelan.
“Kebanyakan manusia menyalahkan kami atas apa yang menimpa mereka.” Katanya. Aku menanggapi, “Sudah sepantasnya.” “Aku ingin menceritakan sebuah kisah.” Katanya. “Pada suatu ketika, seorang manusia menemukan sebuah mesin. Mereka semua berbahagia karena dengan mesin ini pekerjaan mereka menjadi lebih mudah. Selain itu, apa saja dapat mereka lakukan. Seiring berjalannya waktu, berbagai jenis mesin dan benda-benda lainnya muncul di muka bumi, sementara keinginan manusia semakin bertambah-tambah melebihi yang dapat dibayangkan sebelumnya. Keserakahan meracuni pikiran mereka. Mereka saling membunuh, saling menghancurkan dan saling menguasai. Kemudian dengan alasan meningkatkan taraf hidup, mereka mulai merambah alam; hutan-hutan dan tanah, menebangi pepohonan dan memusnahkan segala makhluk hidup di dalamnya. Bukit dan gunung-gunung yang gundul bagai orang tak berambut. Kau lihat saja, sampah-sampah bertebaran dimana-mana sehingga sungai yang bening menjadi sumber kematian. Kemudian awan melakukan tugasnya, memberi titik air bagi manusia. Sebagaimana aku, sang awan juga hanya melakukan apa yang harus ia lakukan, ketika pepohonan yang menjadi bagian penting dalam tugasnya tak ada lagi, kau tahu bagaimana akibatnya jika... Bukan kah hal itu ada dalam buku pelajaranmu, ketika penyerapan tak dimungkinkan lagi, maka segala air yang tergenang akan melanda apa saja yang dilaluinya? Mereka mengutuki kami, manusia-manusia itu.”
“Apakah kau marah dengan makian yang mereka ucapkan?” “Aku tak tahu, kami tak memiliki emosi seperti itu. Hanya saja, terkadang manusia itu lebih bodoh dari yang dipikirkan.” “Kenapa begitu?” “Karena mereka mengetahui segala sesuatu, tapi keserakahan membutakan mata mereka, sehingga... kau tahu.” Ia tak melanjutkan ucapannya. “Tapi tak semua manusia seperti itu.” Kataku berusaha membela diri. “Tentu saja.” Ujarnya.
“Bisakah aku berkata-kata dengan sang awan?” “Kapan saja kau mau. Ku rasa ia tengah sibuk saat ini. Kau lihat di sebelah barat, awan hitam dengan dinding kelabu hingga ke permukaan bumi.” “Bisakah ia mendengar apa yang kita bicarakan sekarang ini?” “Tidak, teman. Ia terlalu jauh untuk mendengar.”
Aku meletakkan buku yang ku bawa di sampingku. “Kau tahu buku ini?” kataku.”Aku membaca di dalamnya tentang seorang pemuda yang berbicara pada angin di padang gurun.” “Ya, aku mengenal pemuda itu.” “Benarkah?” kataku tak percaya. “Tentu, hanya saja kejadian itu sudah sangat lama.” Aku terdiam, hati ku mengatakan sesuatu tentang pujian. “Kau baik sekali.” Katanya seolah membaca pikiranku. “Oh, aku melupakan sesuatu, kau dapat membaca pikiran manusia.”
“Apakah kita dapat berteman selamanya?” kataku. “Selama yang kau inginkan. Selama kau memberi waktu untuk mendengarkan suara hatimu.” Kenapa begitu?” “Karena hatimu adalah sumber kehidupan. Ia merupakan roh TUHAN yang tinggal dalam manusia.” “Tapi bagaimana jika hatiku mengatakan sesuatu yang jahat?” “Itu pikiranmu yang bertindak seolah ia adalah suara hati.” “Aku tak mengerti.” “Kau akan mengerti pada waktunya nanti.”
“Apakah kau melihat seorang manusia ketika ia mati?” “Selalu.” “Bagaimana?” “Kami akan menangis dan sang awan akan menurunkan hujan karena kesedihannya. Namun kami juga berbahagia, karena orang itu telah menyelesaikan tugasnya dimuka bumi dan ia kembali kepada sang Penciptanya.” “Sudah berapa lama kau di sini?” “Sejak dunia diciptakan.”
Sejak hari itu, aku selalu melewatkan hari berbicara padanya. Semua orang memandangku dengan tatapan aneh saat aku menyusuri jalanan sempit menuju rumahku. Mereka berbisik-bisik. Ku dengar sekilas, mereka mengatakan aku gila atau orang yang menyedihkan, dan yang lain mengatakan aku terlalu banyak berpikir sehingga kehilangan kesadaran.

Aku tak perduli apa yang mereka pikirkan tentangku. Mereka tak memiliki yang ku miliki. Angin pernah mengatakan, menjalani hidup butuh keberanian. Apapun yang kau lakukan, selalu ada pengalaman baru. Mungkin dengan begitu, aku harus melupakan perjalanan yang pernah ku rencanakan dan membiarkan Rencana Besar itu terbang bersama angin. Karena  kini, aku dapat pergi kemana saja melalui pikiranku. 

Jumat, 01 Maret 2013

Yang Terlewatkan


Rasanya aku tak sanggup lagi. Semua yang telah dilakukan terasa sia-sia belaka. Apapun yang direncanakan sekarang ini tak kan membuat perubahan itu datang. Hari-hari berlalu dalam andai-andai. Hanya terlewatkan dalam jam-jam yang sepi tanpa suara. Bagai malam yang hening dalam hutan yang gelap.
Hidup mungkin terasa tak adil setelah semua yang telah kau alami tidak satupun memberikan yang baik bagimu. Tapi, terkadang, itulah yang terjadi. Kau tidak bisa melakukan apapun. Kau marah, tapi kau tak berdaya.
            “Aku tak bisa lagi melakukannya.” Kataku
            “Kau menyerah begitu saja?” ia bertanya.
            “Bagaimana tidak.” Jawabku. “Tak ada gunanya lagi diteruskan. Membuang waktu saja.”
            “Mungkin saja, tapi bagaimana dengan waktu, uang, dan tenaga selama ini?” ujarnya.
            “Aku tahu ini berat sekali untuk mu.”
            “Tentu saja”. katanya.
            “Maafkan aku.” Kataku. “Aku tak bermaksud mengecewakanmu.”
            “Tentu saja aku kecewa”
            “Aku tahu, maafkan aku”
            “Aku masih tak habis pikir.” Katanya. “Bukankah selama ini kau melakukannya dengan baik?”
            “Ya, tapi kenyataannya malah sebaliknya.” Jawabku.
            “Bagaimana mungkin?” Ia masih tidak percaya.
            “Kau tahu, aku mulai tertekan dengan keadaanku.” Kataku. “Aku ingin mengatakannya padamu secara terus terang. Tapi aku takut. Aku takut mengatakannya. Aku takut kau akan kecewa dan marah padaku.”
            “Lalu, kenapa kau diam saja seolah kau hidup hanya sendirian saja?”
            “Aku tak ingin menyusahkanmu.”
            “Tapi kau sudah menyusahkanku sekarang.” 
            “Maaf, aku tidak bermaksud demikian.” Ujarku.
            “Kenapa baru sekarang kau berterus terang?” ia bertanya.
            “Keberanian sudah meninggalkanku.”
            “Menurutmu, kau bisa melakukannya lagi?” ia bertanya.
            “Aku tak tahu.” Jawabku dengan keraguan.
            “Sudah kau bertanya dengan mereka?”
            “Ya.” Jawabku singkat.
            “Lalu, apa yang mereka katakan tentang masalah itu?”
            “Mereka akan membantu, tapi menurutku mereka juga tak tahu apa yang harus dilakukan.”
            Ia menghela nafas.
            “Aku merasa tidak berguna.” Kataku. “Maafkan aku.”
            “Jangan berkata begitu.” Ujarnya. “Aku berharap kau dapat menyelesaikannya dengan baik.”
            “Tapi aku sudah mengecewakanmu dan mereka.” Kataku. “Tidakkah kau melihat wajah-wajah yang dipenuhi oleh kekecewaan itu?”
            “Aku bisa melihatnya.” Jawabnya. “Kau juga bisa melihatnya diwajahku.”
            “Aku merasa hidupku sia-sia.” Kataku.
            “Apa yang membuatmu berpikir demikian?” tanyanya.
            “Ya, kenyataan yang kini sedang ku hadapi.” Jawabku.
            “Lantas apa yang akan kau lakukan?”
            “Aku tak yakin.” Jawabku. “Kalau saja mungkin, aku akan melakukan sesuatu yang lain.”
            “Seperti...?”
            “Seperti menciptakan cerita baru. Cerita yang benar-benar baru dalam hidupku.”   
            “Tapi itu akan memerlukan waktu yang cukup lama.” Katanya.       
            “Aku tahu.” Jawabku.
            “Justru itu masalahnya.” Katanya
         “Aku tahu, mungkin aku akan menghabiskan sebagian besar hidupku disitu.” Ujarku. “ Tapi menurutku itu lebih baik dari pada tidak melakukan apapun.”
            “Itu pemikiran yang terlalu berani.” Katanya. “Dan beresiko.”
            “Aku  tak punya pilihan lain.” Jawabku. “Aku juga ingin seperti orang-orang lain.”
            “Tentu saja.” katanya. “Aku ingin melihatmu bahagia.”
            “Aku cukup bahagia dengan hidupku.” Kataku berbohong.
            “Aku tidak melihat adanya kebahagiaan dimatamu.”
            “Mungkin karena aku terlalu lelah.” Ujarku. “Lelah dengan pekerjaan. Lelah dengan permasalahan yang datang silih berganti. Lelah dengan hidup ini. Lelah dengan segalanya.”
            “Maafkan aku.” Katanya. Aku melihat matanya berkaca-kaca. “Semua ini adalah kesalahanku.”   
            “Tidak.” Jawabku. “Ini bukan kesalahanmu.”
            “Ya, tentu saja ini kesalahanku. Seharusnya, aku bisa menjadi seorang yang lebih baik untuk kalian.”
            “Sudahlah.” Kataku menyentuh tangannya. “Tak ada yang harus disesali.”
            “Aku telah membuatmu menderita.” Katanya.
            “Mungkin dalam beberapa cara aku memang menderita. Tapi selebihnya, itu semua kesalahanku.” Ujarku beberapa saat kemudian. “Dan tidak seharusnya aku mengatakan semua ini padamu.”
            “Kenapa tidak?” katanya. “Aku ini ayahmu.”
            “Tapi itu akan menambah satu hal lagi untuk dipikirkan.“ Jawabku.
            “Itu kewajibanku.” Katanya.
            “Aku sudah cukup menyusahkanmu.”
            Aku meraih tangannya.
            “Maafkan aku, ayah.” Kataku.
            “Maafkan ayah juga.”
Mungkin aku tak kan pernah bisa meraih impianku, tapi aku tidak menyesal. 

Rabu, 06 Juli 2011

BAHASA SLANG

CHAPTER I
INTRODUCTION

English Variations
Individuals differ in the manner in which they speak their native tongue, although usually not markedly within a small area. The differences among groups of speakers in the same speech community can, however, be considerable. These variations of a language constitute its dialects. All languages are continuously changing, but if there is a common direction of change it has never been convincingly described. Various factors, especially the use of written language, have led to the development of a standard language in most of the major speech communities—a special official dialect of a language that is theoretically maintained unchanged.
This official dialect is the school form of a language, and by a familiar fallacy has been considered the norm from which everyday language deviates. Rather, the standard language is actually a development of some local dialect that has been accorded prestige. The standard English of England is derived from London English and the standard Italian is that of Tuscany. Use of the standard language is often a mark of polite behavior. In the United States employing standard English, which largely entails the usage of approved grammar and pronunciation, marks a person as cultivated. Ordinary speech may be affected by the standard language. Thus, many forms of expression come to be considered ungrammatical and substandard and are regarded as badges of ignorance, such as you was in place of the standard you were.
Slang is the example of non-formal English which is only spoken in a group, community, and not all of English speaker understand. There are many reasons people use slang words and expressions. It can be used just for fun or as a way to be witty or clever. You can use it to be different or startling. Even if you don’t know it, slang enriches the language. Many use it as a way to be friendly, or to show that they belong to a certain group or profession. Some engage in slang usage to be secretive, like those in secret societies, children, students, or prisoners.
Slang is a way of using descriptive or figurative language. It sometimes is irreverent and humorous. Slang expressions describe activities or objects. There is a high number of slang terms associated with the activity or object if it is prevalent. In 1901, G. K. Chesterton wrote “All slang is metaphor, and all metaphor is poetry,” in Defence of Slang.

This paper is to describe:
1.    What is slang?
2.     What is the use of studying Slang?

The writer has interest in slang language and aim to describe it into this paper. It is hoped that the students of English are able to use this paper as reference.

CHAPTER II
SLANG
1.    Definition of Slang
Few linguists have endeavored to clearly define what constitutes slang. Attempting to remedy this, Bethany K. Dumas and Jonathan Lighter argue that an expression should be considered "true slang" if it meets at least two of the following criteria:
·         It lowers, if temporarily, "the dignity of formal or serious speech or writing"; in other words, it is likely to be considered in those contexts a "glaring misuse of register."
·         Its use implies that the user is familiar with whatever is referred to, or with a group of people who are familiar with it and use the term.
·         "It is a taboo term in ordinary discourse with people of a higher social status or greater responsibility."
·         It replaces "a well-known conventional synonym". This is done primarily to avoid the discomfort caused by the conventional item or by further elaboration.
2.    Some Thoughts on Slang
a.    Slang is the poetry of everyday life. 
     -S. I. Hayakawa, Language in Action, 1941 
b.    Slang, n. The grunt of the human hog (Pignoramus intolerabilis) with an audible memory. 
     -Ambrose Bierce, The Devil's Dictionary, 1911 
c.     I shall invent a new game; I shall write bits of slang and poetry on slips and give them to you separate. 
     -George Eliot, Middlemarch, 1871 
d.    Slang is "language which takes off its coat, spits on its hands -- and goes to work." 
     -Carl Sandburg (as quoted in Crystal 182) 
e.    Slang is humanity's first play toy. 
     -John Algeo, University of Georgia professor 
f.     Slang, at its worst, it is stupidly coarse and provocative.  At its best, it makes standard English seem pallid. 
     -J. E. Lighter, chief editor of Random House Historical Dictionary of American Slang

Slang should be distinguished from jargon, which is the technical vocabulary of a particular profession, and which meets only the second of the criteria given above. Jargon, like many examples of slang, may be used to exclude non–group members from the conversation, but in general has the function of allowing its users to talk precisely about the technical issues in a given field.

3.    Extent and origins of slang

Slang can be regional (that is, used only in a particular territory), but slang terms are often particular instead to a certain subculture, such as music or video gaming. Nevertheless, slang expressions can spread outside their original areas to become commonly used, like "cool" and "jive." While some words eventually lose their status as slang (the word "mob", for example, began as a shortening of Latin mobile vulgus), others continue to be considered as such by most speakers. When slang spreads beyond the group or subculture that originally uses it, its original users often replace it with other, less-recognized terms to maintain group identity.
One use of slang is to circumvent social taboos, as mainstream language tends to shy away from evoking certain realities. For this reason, slang vocabularies are particularly rich in certain domains, such as violence, crime, drugs, and sex. Alternatively, slang can grow out of mere familiarity with the things described. Among Californian wine connoisseurs (and other groups), for example, Cabernet Sauvignon is often known as "Cab Sav," Chardonnay as "Chard" and so on; this means that naming the different wines expends less superfluous effort; it also helps to indicate the user's familiarity with wine.
Even within a single language community, slang, and the extent to which it is used, tends to vary widely across social, ethnic, economic, and geographic strata. Slang may fall into disuse over time; sometimes, however, it grows more and more common until it becomes the dominant way of saying something, at which time it usually comes to be regarded as mainstream, acceptable language (e.g. the Spanish word caballo), although in the case of taboo words there may be no expression that is considered mainstream or acceptable. Numerous slang terms pass into informal mainstream speech, and sometimes into formal speech, though this may involve a change in meaning or usage.
Slang very often involves the creation of novel meanings for existing words. It is common for such novel meanings to diverge significantly from the standard meaning. Thus, "cool" and "hot" can both mean "very good," "impressive," or "good-looking".
Slang terms are often known only within a clique or in group. For example, Leet ("Leetspeak" or "1337") was originally popular only among certain Internet subcultures, such as crackers and online video gamers. During the 1990s, and into the early 21st century, however, Leet became increasingly more commonplace on the Internet, and it has spread outside Internet-based communication and into spoken languages. Other types of slang include SMS language used on mobile phones, and "chatspeak," (e.g., "LOL", an acronym meaning "laughing out loud" or "laugh out loud" or ROFL, "rolling on the floor laughing"), which is widely used in instant messaging on the Internet.
            According to the British lexicographer, Eric Partridge (1894-1979), people use slang for any of at least 15 reasons: 
1.  In sheer high spirits, by the young in heart as well as by the young in years; 'just for the fun of the thing'; in playfulness or waggishness. 
2. As an exercise either in wit and ingenuity or in humour.  (The motive behind this is usually self-display or snobbishness, emulation or responsiveness, delight in virtuosity). 
3. To be 'different', to be novel. 
4.  To be picturesque (either positively or - as in the wish to avoid insipidity - negatively). 
5. To be unmistakeably arresting, even startling. 
6. To escape from clichés, or to be brief and concise.  (Actuated by impatience with existing terms.) 
7.  To enrich the language.  (This deliberateness is rare save among the well-educated, Cockneys forming the most notable exception; it is literary rather than spontaneous.) 
8.  To lend an air of solidity, concreteness, to the abstract; of earthiness to the idealistic; of immediacy and appositeness to the remote.  (In the cultured the effort is usually premeditated, while in the uncultured it is almost always unconscious when it is not rather subconscious.) 
9a. To lesson the sting of, or on the other hand to give additional point to, a refusal, a rejection, a recantation; 
9b. To reduce, perhaps also to disperse, the solemnity, the pomposity, the excessive seriousness of a conversation (or of a piece of writing); 
9c. To soften the tragedy, to lighten or to 'prettify' the inevitability of death or madness, or to mask the ugliness or the pity of profound turpitude (e.g. treachery, ingratitude); and/or thus to enable the speaker or his auditor or both to endure, to 'carry on'. 
10.  To speak or write down to an inferior, or to amuse a superior public; or merely to be on a colloquial level with either one's audience or one's subject matter. 
11.  For ease of social intercourse.  (Not to be confused or merged with the preceding.) 
12.  To induce either friendliness or intimacy of a deep or a durable kind.  (Same remark.) 
13.  To show that one belongs to a certain school, trade, or profession, artistic or intellectual set, or social class; in brief, to be 'in the swim' or to establish contact. 
14.  Hence, to show or prove that someone is not 'in the swim'. 
15.  To be secret - not understood by those around one.  (Children, students, lovers, members of political secret societies, and criminals in or out of prison, innocent persons in prison, are the chief exponents.) 
4.    Examples of Slang
Here are some examples of American slang language:
Slang:  Originally meant abuse 
Have a Cow:  This is normally used as part of a sentence.  For example: "Don't have a cow." Or "My mom’s going to have a cow."  There are some variations, for instance, "have a bird." 
Cool:  This popular expression is used to describe something that is very good. 
  Ex:  “That band is cool!” 
Cat’s Pajamas:  Used in the 20’s, this expression is very similar to "cool." 
            Other slang term that have similar meanings are: "radical," "groovy," 
             "da-bomb," and "neat-o." 
Chill:  This can mean to calm down, for example, “Chill out, Dude.” It also can have an "-in" ending added to mean to relax, as in “We’re just chillin at my house.” 
Dude:  This is can be used to refer to any person whether they are known by the speaker or not.  Example: “That dude is stealing my car.”  Or “Dude, I’m glad you finally called.” 
Peace:  Used as a greeting during the late 60’s and early 70’s. 
Stinks:  When used as a slang term, this means "is bad."  For example:  “This exam stinks.” 
Trollin:  Used to describe a car or cars traveling slower than the flow of traffic.  Example:  "This car is really trollin." 
Mr. Charley: a white man 
The Man:  the law 
Uncle Tom:  a meek black person 
23-skiddoo:  used in the 1920s 
Booze:  alcohol 
Buzz off:  go away 
John, head, can, loo:  toilet 
Schnozz:  nose 
Grub, slop, garbage, gas:  food 
Tart:  upstart young woman or prostitute 
Makin' whoopee (Walter Winchell - 1929):  making love. 


CHAPTER II
CONCLUSION

1.    What is Slang?
Slang, which we have observed, is a dialect that exists and is going to undergo significant development as the time goes by. Now, we are able to answer, what is slang and what is the use of studying slang?
Slang is informal, nonstandard words or phrases (lexical innovations) which tend to originate in subcultures within a society.  Slang is informal because it is not bound to grammar rules, and nonstandard because it often mean different things with different words or phrases. Slang often suggests that the person utilizing the words or phrases is familiar with the hearer's group or subgroup--it can be considered a distinguishing factor of in-group identity.  Microsoft Encarta states: "slang expressions often embody attitudes and values of group members."

2.    What is the use of studying Slang?
Here are several points of the advantages of studying Slang for students of English as foreign language:
1.    To widen knowledge on English language.
2.    To enrich vocabulary.
3.    To increase speaking fluency, because when we remember many words, it is easier to use them in everyday speaking.
4.    The most important thing is to be able to use either Slang or formal English in the appropriate time and place without mixing them.








References:
Dumas, Bethany K.; Lighter, Jonathan (1978). "Is Slang a Word for Linguists?" American Speech 53 (5): 14–15 in Wikipedia
Holmes, Janet. 1990. “Introduction To Linguistics”.
language: Variations in Language — Infoplease.com http://www.infoplease.com/ce6/society/A0859182.html#ixzz1R7lI3u5p
Eric Patridge. Slang:  Today and Yesterday, 1933, Ch. 2.
http://www.yourdictionary.com/grammar/slang/history-of-american-slang-words.html